%O Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah pada permukaan paduan titanium yaitu sifat bioinert yang mengganggu proses penyatuan tulang dengan implant (osseointegration). Keterbatasan tersebut memerlukan rekayasa permukaan (surface engineering) untuk memperbaiki interaksi antara permukaan implant dengan jaringan tulang sehingga permukaan menjadi lebih mendukung pembentukan tulang (osteogenic). Metode yang digunakan adalah metode pelapisan (coating) berbasis larutan (dip coating). Jenis pelapis yang digunakan yaitu kitosan (CTS) 0,5% (w/v) dengan asam tanat (TA) 1% (v/v) dan asam asetat 0,1% (w/v). Penelitian ini dilakukan dengan variasi rasio (v/v) antara kitosan dan asam tanat 0,5 (CTS 1 : TA 2), 1 (CTS 1 : TA 1) dan 2 (CTS 2 : TA 1) dan variasi waktu perendaman selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Pengujian yang dilakukan yaitu dengan karakterisasi larutan (FTIR), karakterisasi morfologi permukaan (3D OM dan SEM), karakterisasi sifat permukaan (contact angle test dan uji gores), dan uji ketahanan korosi (EIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa titanium yang sudah dilapisi memiliki lapisan tipis organik yang terkonfirmasi dengan FTIR dan SEM, memiliki permukaan yang lebih hidrofilik dari base metal 50° menjadi 31° pada hasil coating terbaik, memiliki kekasaran permukaan dengan rentang 2,70 – 6,99 µm, dan ketahanan korosi yang cukup baik yaitu 4.792,8. Berdasarkan penelitian ini, pelapisan CTS-TA 0,5 72 jam pada permukaan Ti-25Nb-6Cu memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai material untuk implan orthopedi. %A Paula Dina Kristiyanti %L eprintuntirta58707 %X Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah pada permukaan paduan titanium yaitu sifat bioinert yang mengganggu proses penyatuan tulang dengan implant (osseointegration). Keterbatasan tersebut memerlukan rekayasa permukaan (surface engineering) untuk memperbaiki interaksi antara permukaan implant dengan jaringan tulang sehingga permukaan menjadi lebih mendukung pembentukan tulang (osteogenic). Metode yang digunakan adalah metode pelapisan (coating) berbasis larutan (dip coating). Jenis pelapis yang digunakan yaitu kitosan (CTS) 0,5% (w/v) dengan asam tanat (TA) 1% (v/v) dan asam asetat 0,1% (w/v). Penelitian ini dilakukan dengan variasi rasio (v/v) antara kitosan dan asam tanat 0,5 (CTS 1 : TA 2), 1 (CTS 1 : TA 1) dan 2 (CTS 2 : TA 1) dan variasi waktu perendaman selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Pengujian yang dilakukan yaitu dengan karakterisasi larutan (FTIR), karakterisasi morfologi permukaan (3D OM dan SEM), karakterisasi sifat permukaan (contact angle test dan uji gores), dan uji ketahanan korosi (EIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa titanium yang sudah dilapisi memiliki lapisan tipis organik yang terkonfirmasi dengan FTIR dan SEM, memiliki permukaan yang lebih hidrofilik dari base metal 50° menjadi 31° pada hasil coating terbaik, memiliki kekasaran permukaan dengan rentang 2,70 – 6,99 µm, dan ketahanan korosi yang cukup baik yaitu 4.792,8. Berdasarkan penelitian ini, pelapisan CTS-TA 0,5 72 jam pada permukaan Ti-25Nb-6Cu memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai material untuk implan orthopedi. %D 2026 %T PENGARUH RASIO DAN WAKTU DIP COATING PELAPISAN KOMPOSIT KITOSAN-ASAM TANAT (CTS-TA) PADA PADUAN Ti-25Nb-6Cu UNTUK APLIKASI IMPLAN ORTOPEDI %I Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa