TY - UNPB N2 - The development of artificial intelligence technology has had a significant impact on various aspects of life, one of which is the emergence of cyber deepfakes that can manipulate images, sounds, and videos to make them appear authentic. The misuse of this technology poses a serious threat to the privacy, reputation, and security of society. The purpose of this paper is to determine how the implementation of the Electronic Information and Transaction Law applies to cases of cyber deepfakes containing hoax videos in Indonesia, as well as the urgency of reformulating its regulations from the perspective of criminal law reform. This study uses the criminal law policy theory of Barda Nawawi Arief and Marc Ancel and the criminal law reform theory of Barda Nawawi Arief as its analytical tools. The research method used is empirical juridical with a legislative and comparative approach, through data collection using descriptive analysis. The results show that the enforcement of the ITE Law against deepfake cases is still weak due to normative gaps, the limitations of law enforcement officials, and the absence of regulations governing the responsibility of AI developers. The conclusion of this study emphasizes the need for criminal law reform through the reformulation of the ITE Law so that it can cover AI-based crimes with reference to international practices such as the EU AI Act and China Deep Synthesis Provisions. This study recommends the need to establish specific AI regulations. TI - URGENSI REFORMULASI UNDANG-UNDANG ITE TERHADAP KECERDASAN BUATAN CYBER DEEPFAKE DALAM PERSPEKTIF PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA M1 - sarjana N1 - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan membawa dampak signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, salah satunya melalui kemunculan cyber deepfake yang mampu memanipulasi gambar, suara, dan video hingga tampak autentik. Penyalahgunaan teknologi ini menimbulkan ancaman serius terhadap privasi, reputasi, dan keamanan masyarakat. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui bagaimana implementasi penegakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik terhadap kasus cyber deepfake bermuatan video hoaks di Indonesia, serta bagaimana urgensi reformulasi pengaturannya dalam perspektif pembaharuan hukum pidana. Penelitian ini menggunakan teori kebijakan hukum pidana dari Barda Nawawi Arief dan Marc Ancel, lalu teori pembaharuan hukum pidana dari Barda Nawawi Arief, sebagai pisau analisisnya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan komparatif, melalui pengumpulan data dengan cara deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan Undang-Undang ITE terhadap kasus deepfake masih lemah akibat kekosongan norma, keterbatasan aparat penegak hukum, serta belum adanya regulasi yang mengatur tanggung jawab pengembang AI. Kesimpulan penelitian ini menegaskan perlunya pembaharuan hukum pidana melalui reformulasi UU ITE agar mampu menjangkau kejahatan berbasis AI dengan mengacu pada praktik internasional seperti EU AI Act dan China Deep Synthesis Provisions. Rekomendasi penelitian ini yaitu perlunya pembentukan regulasi khusus AI dan peningkatan kapasitas penegak hukum. ID - eprintuntirta57703 AV - restricted A1 - Muhammad Akbar, Bintang EP - 162 KW - cyber deepfake KW - kebijakan hukum pidana KW - kecerdasan buatan KW - Reformulasi hukum pidana KW - Undang-Undang ITE. Artificial intelligence KW - criminal law reformulation KW - cyber deepfake KW - ITE Law KW - penal policy UR - https://eprints.untirta.ac.id/57703/ Y1 - 2026/// PB - Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ER -