TY - THES TI - TRADISI NGABUNGBANG SEBAGAI BENTUK IDENTITAS SOSIAL MASYARAKAT DESA CIMANDE N2 - This research aims to gain a deeper understanding of the Ngabungbang Tradition as a Form of Social Identity in the Cimande Village Community, utilizing Clifford Geertz's Interpretive Anthropology perspective. The research approach employed in this study is qualitative with a descriptive method. For informant selection, a purposive sampling technique was utilized. The findings indicate that the history of the Ngabungbang tradition in Cimande Village initially originated from napak tilas (following in the footsteps/pilgrimage) or gatherings of teachers and students who sought to learn pencak silat. Over time, other rituals evolved, such as mapag mulud (welcoming the Prophet's birthday month), keuceran (washing of sacred heirlooms), bathing in Cikamalayan, and pilgrimages to the tombs of the revered elders. Based on these developments, this tradition has become an integral part of the Cimande Village community's social identity, with its peak event routinely held every 14th of Rabi' al-Awwal, the month of Prophet Muhammad's birth. The symbols present in this tradition consist of cai (water), bathing, prayer, heirlooms, and the tombs of the elders. Social interactions within this tradition occur among people from various backgrounds, such as the gathering of students who once learned silat in Cimande. The overall meaning of the Ngabungbang tradition in Cimande Village is to purify oneself by discarding negative aspects with the intention of repenting to Allah SWT. Keywords : Cultural Ritual, Ngabungbang Tradition, Social Identity N1 - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai Tradisi Ngbungbang sebagai Bentuk Identitas Sosial Masyarakat Desa Cimande, dengan pandangan Tafsir Kebudayaan dari Cliffort Geertz. Pendekatan penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Dalam pemilihan informan penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menujukan bahwa sejarah tradisi Ngabungbang di Desa Cimande awalnya bermula dari napak tilas atau pertemuan para guru dan murid yang ingin belajar pencak silat, seiring berjalannya waktu berkembang prosesi lain seperti mapag mulud, keuceran (cuci pusaka), mandi di Cikamalayan, berziarah ke makam para sesepuh. Berdasarkan hal tersebut menjadikan tradisi ini bagian dari identitas sosial masyarakat Desa Cimande, yang puncak acaranya rutin setiap tanggal 14 maulid yakni bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Simbolsimbol yang ada dalam tradisi ini terdiri dari cai (air), mandi, doa, pusaka, dan makam sesepuh. Interaksi sosial dalam tradisi ini terjalan dari berbagai latar belakang seperti silaturahmi para murid yang pernah belajar silat di Cimande. Makna tradisi Ngabungbang di Desa Cimande ini secara keseluruhan adalah membersihkan diri dengan membuang hal-hal yang negatif dengan niat bertaubat kepada Allah SWT. Kata Kunci : Ritual Budaya, Tradisi Ngabungbang, Identitas Sosial. A1 - RAHMAWATI, DINI PB - Universitas Sultan Ageng Tirtaya EP - 156 UR - https://eprints.untirta.ac.id/55559/ Y1 - 2025/10/28/ ID - eprintuntirta55559 AV - restricted M1 - sarjana ER -