Search for collections on EPrints Repository UNTIRTA

LEKSIKON DAN FILOSOFI NAMA-NAMA PISANG LOKAL BANTEN: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK

Amalia, Metta Dian (2026) LEKSIKON DAN FILOSOFI NAMA-NAMA PISANG LOKAL BANTEN: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK. S1 thesis, UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA.

[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_FULL TEXT.pdf

Download (7MB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_CP.pdf

Download (236kB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_01.pdf

Download (871kB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_02.pdf

Download (600kB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_03.pdf

Download (316kB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_04.pdf

Download (3MB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_05.pdf

Download (167kB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_REF.pdf

Download (202kB)
[img] Text
METTA DIAN AMALIA_2222210060_LAMP.pdf

Download (3MB)

Abstract

This study employs a descriptive qualitative method aimed at describing the lexicon and philosophy of local banana names in Banten from an anthropolinguistic perspective. Data were collected through observation, interview, recording, and note-taking techniques. The face-to-face interview technique was conducted by directly engaging with informants consisting of banana farmers, traders, and agricultural instructors across four regencies in Banten. The collected data were transcribed and analyzed using the intralingual and extralingual equivalent methods to reveal the forms, variations, and philosophical meanings of the local banana lexicon. The findings indicate that there were 166 initial lexical data of local banana names, which after deduplication resulted in 62 main data entries. All of these were identified as endocentric attributive noun phrases. The naming patterns reflect the community’s worldview toward the agrarian environment, perceptual experiences, and cultural values. Among these, 55 lexical items have identifiable philosophical meanings categorized into six groups: (1) physical characteristics, (2) taste, (3) onomatopoeia, (4) processing or consumption methods, (5) origin or distribution, and (6) local language or terminology. The remaining seven items were considered unmotivated. Data validity was ensured through source triangulation, comparing information obtained from multiple groups of informants. The results reveal that the lexicon of local banana names in Banten not only serves as a linguistic marker but also embodies philosophical values and local wisdom of the Banten people. Furthermore, the findings are utilized as the basis for developing a culturally based Indonesian language teaching module for junior high school students, encouraging appreciation toward regional language and cultural heritage. Keywords: anthropolinguistics, Banten local banana names, lexicon, philosophy

Item Type: Thesis (S1)
Contributors:
ContributionContributorsNIP/NIM
Thesis advisorMuhyidin, Asep197604072001121002
Thesis advisorMaryani, Nani198307292008122001
Additional Information: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan mendeskripsikan leksikon dan filosofi nama-nama pisang lokal Banten dari sudut pandang antropolinguistik. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik simak, cakap, rekam, dan catat. Teknik cakap semuka dilakukan dengan berinteraksi langsung dengan informan yang terdiri atas petani pisang, pedagang pisang, dan penyuluh pertanian di empat kabupaten wilayah Banten. Data yang diperoleh kemudian ditranskripsikan dan dianalisis menggunakan metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual untuk mengungkap bentuk, variasi, dan makna filosofis leksikon nama-nama pisang lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 166 data awal leksikon nama-nama pisang lokal Banten yang setelah proses deduplikasi menjadi 62 data utama. Seluruh satuan lingual yang ditemukan berupa frasa nomina endosentris atributif. Pola penamaan menunjukkan representasi cara pandang masyarakat terhadap lingkungan, pengalaman perseptual, dan nilai-nilai budaya yang masih hidup. Dari 62 data tersebut, sebanyak 55 data memiliki makna filosofis yang dapat dijelaskan dan dikategorikan ke dalam enam kelompok: (1) ciri fisik, (2) rasa, (3) tiruan bunyi, (4) cara pengolahan atau konsumsi, (5) asal-usul persebaran, dan (6) bahasa atau istilah lokal. Adapun tujuh data lainnya tidak memiliki motivasi penamaan yang jelas. Keabsahan data diperoleh melalui teknik triangulasi sumber dengan membandingkan hasil wawancara dari berbagai kelompok narasumber. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa leksikon pisang lokal Banten tidak hanya berfungsi sebagai penanda kebahasaan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal masyarakat. Hasil penelitian ini juga dimanfaatkan untuk pengembangan modul ajar Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal di tingkat SMP guna menumbuhkan apresiasi peserta didik terhadap bahasa dan budaya daerahnya. Kata kunci: antropolinguistik, filosofi, leksikon, nama-nama pisang lokal Banten
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: 02-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
02-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > 88201-Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia
Depositing User: Metta Dian Amalia
Date Deposited: 22 Jan 2026 04:29
Last Modified: 22 Jan 2026 04:29
URI: http://eprints.untirta.ac.id/id/eprint/57385

Actions (login required)

View Item View Item