Nuralyasari, Putri (2026) ANALISIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT BERAS SANGRATU DI PT AGROBISNIS BANTEN MANDIRI DENGAN METODE SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE. S1 thesis, UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA.
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_CP.pdf Download (21MB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_Fulltext.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_01.pdf Download (577kB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_02.pdf Download (260kB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_03.pdf Download (212kB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_04.pdf Download (676kB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_05.pdf Download (156kB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_Ref.pdf Download (159kB) |
|
|
Text
Putri Nuralyasari_4441220083_Lamp.pdf Download (1MB) |
Abstract
Rice is a primary food commodity in Indonesia; therefore, the continuity of its supply and the stability of its price play a crucial role in shaping the country’s social and economic conditions. However, declining national production, population growth, and persistent price fluctuations create challenges for rice supply chain. The Sangratu rice supply chain at PT Agrobisnis Banten Mandiri faces challenges from absent supplier agreements, sales planning. This study aims to examine the supply chain flow of Sangratu rice managed by PT Agrobisnis Banten Mandiri, identify key constraints in its supply chain management, and evaluate the overall efficiency of its performance. A descriptive approach was employed using the Supply Chain Operations Reference (SCOR) model, which consists of five core processes: plan, source, make, deliver, and return. Data were collected through field observations, interviews, and a review of company documentation. The findings reveal that the supply chain involves three primary actors: farmers, rice millers, and ABMmart as the retail distributor. Major challenges include price volatility, reliance on millers without formal partnership agreements, limited sorting technology, and demand planning that is not yet data-driven. Performance assessment using SCOR indicators shows strong reliability with a 100% Perfect Order Fulfillment (POF), immediate responsiveness indicated by a zero-day Order Fulfillment Cycle Time (OFCT), and high agility reflected in USCA of 147% and DSCA of 245%. Conversely, the cost indicator demonstrates inefficiencies, as shown by a Cost of Goods Sold (COGS) of 96%, while a Cash-to-Cash Cycle Time (CTCCT) of 19 days indicates relatively rapid capital turnover.
| Item Type: | Thesis (S1) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
|||||||||
| Additional Information: | Beras merupakan komoditas pangan utama di Indonesia; oleh karena itu, keberlanjutan pasokannya dan stabilitas harganya memainkan peran penting dalam membentuk kondisi sosial dan ekonomi negara. Namun, penurunan produksi nasional, pertumbuhan penduduk, dan fluktuasi harga yang terus-menerus menciptakan tantangan bagi rantai pasokan beras. Rantai pasokan beras Sangratu di PT Agrobisnis Banten Mandiri menghadapi tantangan dari tidak adanya perjanjian pemasok dan perencanaan penjualan. Studi ini bertujuan untuk meneliti alur rantai pasokan beras Sangratu yang dikelola oleh PT Agrobisnis Banten Mandiri, mengidentifikasi kendala utama dalam manajemen rantai pasokannya, dan mengevaluasi efisiensi kinerja rantai pasok secara keseluruhan. Pendekatan deskriptif digunakan dengan menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR), yang terdiri dari lima proses inti: perencanaan, pengadaan, produksi, pengiriman, dan pengembalian. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan tinjauan dokumentasi perusahaan. Temuan menunjukkan bahwa rantai pasokan melibatkan tiga aktor utama: petani, penggiling beras, dan ABMmart sebagai distributor ritel. Tantangan utama meliputi volatilitas harga, ketergantungan pada penggiling tanpa perjanjian kemitraan formal, teknologi sortir yang terbatas, dan perencanaan permintaan yang belum berbasis data. Penilaian kinerja menggunakan indikator SCOR menunjukkan keandalan yang kuat dengan Pemenuhan Pesanan Sempurna (POF) 100%, responsivitas langsung yang ditunjukkan oleh Waktu Siklus Pemenuhan Pesanan (OFCT) nol hari, dan kelincahan tinggi yang tercermin dalam USCA sebesar 147% dan DSCA sebesar 245%. Sebaliknya, indikator biaya menunjukkan inefisiensi, seperti yang ditunjukkan oleh Biaya Barang yang Dijual (COGS) sebesar 96%, sementara Waktu Siklus Kas ke Kas (CTCCT) sebesar 19 hari menunjukkan perputaran modal yang relatif cepat. | |||||||||
| Subjects: | H Social Sciences > HC Economic History and Conditions S Agriculture > S Agriculture (General) |
|||||||||
| Divisions: | 04-Fakultas Pertanian 04-Fakultas Pertanian > 54201-Program Studi Agribisnis |
|||||||||
| Depositing User: | Mrs Putri Nuralyasari | |||||||||
| Date Deposited: | 19 Jan 2026 03:24 | |||||||||
| Last Modified: | 19 Jan 2026 03:24 | |||||||||
| URI: | http://eprints.untirta.ac.id/id/eprint/57215 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
