SULISTYOWATI, PUPUT (2025) KOMBINASI PROSES SINTERING DAN ACID LEACHING RED MUD UNTUK MENGHASILKAN BESI OKSALAT SEBAGAI BAHAN BAKU KATODA BATERAI. S1 thesis, Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
|
Text (FULLTEXT)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _Fulltext1.pdf Restricted to Registered users only Download (4MB) |
|
|
Text (Bab 1)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _01.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
|
|
Text (BAB 2)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _02.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text (BAB 3)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _03.pdf Restricted to Registered users only Download (821kB) |
|
|
Text (BAB 4)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _04.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text (BAB 5)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _05.pdf Restricted to Registered users only Download (566kB) |
|
|
Text (DAFTAR REFERENSI)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _Ref.pdf Restricted to Registered users only Download (514kB) |
|
|
Text (DAFTAR LAMPIRAN SKRIPSI)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _Lamp.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text (CEK PLAGIASI SKRIPSI)
Puput_Sulistyowati_3334210003 _CP.pdf Restricted to Registered users only Download (268kB) |
Abstract
Red mud merupakan limbah padat hasil proses Bayer dalam produksi alumina dari bauksit. Di Indonesia, red mud dihasilkan sekitar 300–350 ribu ton per tahun dan mengandung kadar Fe₂O₃ yang tinggi, yaitu sekitar 30–40%, menjadikannya sumber potensial untuk pemanfaatan kembali. Salah satu aplikasi strategis dari kandungan besi dalam red mud adalah sebagai bahan baku pembuatan besi oksalat (FeC₂O₄), yang merupakan prekursor penting dalam sintesis material katoda baterai lithium iron phosphate (LiFePO₄). Besi oksalat digunakan karena kemampuannya berinteraksi dengan fosfat untuk membentuk struktur kristal LiFePO₄ yang stabil dan efisien. Prosedur pemanfaatan red mud ini diawali dengan magnetic separation untuk memisahkan mineral besi magnetik dari partikel nonmagnetik, sehingga meningkatkan kadar besi. Selanjutnya dilakukan sintering dengan penambahan Na₂CO₃ dan CaCO₃ guna meningkatkan reaktivitas dan homogenitas material. Proses leaching menggunakan asam oksalat dipilih karena ramah lingkungan serta mampu membentuk kompleks stabil dengan ion besi, mempermudah ekstraksi besi oksalat. Untuk mengoptimalkan proses leaching, digunakan pendekatan Shrinking core model (SCM) guna memahami laju dan mekanisme reaksi. Hasil optimum proses sintering diperoleh pada variasi komponen red mud, natrium karbonat dan kalsium karbonat sebesar 4:1:2 selama 2 jam dengan temperatur 1000˚C yang menghasilkan persen ekstraksi Fe sebesar 77,58 %. Proses acid leaching menggunakan asam oksalat 0,5 M memperoleh hasil optimum pada variasi waktu 120 menit dengan temperatur 60˚C yang menghasillkan persen ekstraksi Fe sebesar 84,06 %. kinetika shrinking core model (SCM) yang digunakan memperoleh konstanta difusi (Kd) dengan persamaan garis y = -1,6688x - 4,229 dan nilai energi aktivasi (Ea) sebesar 13,874 kJ/mol. Sedangkan konstanta reaksi kimia (Kc) memiliki persamaan garis y = -1,7562x - 1,9898 dan nilai energi aktivasi (Ea) sebesar 14,601 kJ/mol.
| Item Type: | Thesis (S1) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
|||||||||
| Additional Information: | Red mud merupakan limbah padat hasil proses Bayer dalam produksi alumina dari bauksit. Di Indonesia, red mud dihasilkan sekitar 300–350 ribu ton per tahun dan mengandung kadar Fe₂O₃ yang tinggi, yaitu sekitar 30–40%, menjadikannya sumber potensial untuk pemanfaatan kembali. Salah satu aplikasi strategis dari kandungan besi dalam red mud adalah sebagai bahan baku pembuatan besi oksalat (FeC₂O₄), yang merupakan prekursor penting dalam sintesis material katoda baterai lithium iron phosphate (LiFePO₄). Besi oksalat digunakan karena kemampuannya berinteraksi dengan fosfat untuk membentuk struktur kristal LiFePO₄ yang stabil dan efisien. Prosedur pemanfaatan red mud ini diawali dengan magnetic separation untuk memisahkan mineral besi magnetik dari partikel nonmagnetik, sehingga meningkatkan kadar besi. Selanjutnya dilakukan sintering dengan penambahan Na₂CO₃ dan CaCO₃ guna meningkatkan reaktivitas dan homogenitas material. Proses leaching menggunakan asam oksalat dipilih karena ramah lingkungan serta mampu membentuk kompleks stabil dengan ion besi, mempermudah ekstraksi besi oksalat. Untuk mengoptimalkan proses leaching, digunakan pendekatan Shrinking core model (SCM) guna memahami laju dan mekanisme reaksi. Hasil optimum proses sintering diperoleh pada variasi komponen red mud, natrium karbonat dan kalsium karbonat sebesar 4:1:2 selama 2 jam dengan temperatur 1000˚C yang menghasilkan persen ekstraksi Fe sebesar 77,58 %. Proses acid leaching menggunakan asam oksalat 0,5 M memperoleh hasil optimum pada variasi waktu 120 menit dengan temperatur 60˚C yang menghasillkan persen ekstraksi Fe sebesar 84,06 %. kinetika shrinking core model (SCM) yang digunakan memperoleh konstanta difusi (Kd) dengan persamaan garis y = -1,6688x - 4,229 dan nilai energi aktivasi (Ea) sebesar 13,874 kJ/mol. Sedangkan konstanta reaksi kimia (Kc) memiliki persamaan garis y = -1,7562x - 1,9898 dan nilai energi aktivasi (Ea) sebesar 14,601 kJ/mol. | |||||||||
| Subjects: | T Technology > TN Mining engineering. Metallurgy | |||||||||
| Divisions: | 03-Fakultas Teknik 03-Fakultas Teknik > 27201-Jurusan Teknik Metalurgi |
|||||||||
| Depositing User: | PUPUT SULISTYOWATI | |||||||||
| Date Deposited: | 19 Dec 2025 07:25 | |||||||||
| Last Modified: | 19 Dec 2025 07:25 | |||||||||
| URI: | http://eprints.untirta.ac.id/id/eprint/56692 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
