Search for collections on EPrints Repository UNTIRTA

PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP KETAHANAN STRESS CORROSION CRACKING DI DALAM LARUTAN NaCl 3,5% BAJA CA6NM MODIFIKASI UNTUK APLIKASI SUDU TURBIN UAP PEMBANGKIT LISTRIK

Faisal, Illyas (2022) PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP KETAHANAN STRESS CORROSION CRACKING DI DALAM LARUTAN NaCl 3,5% BAJA CA6NM MODIFIKASI UNTUK APLIKASI SUDU TURBIN UAP PEMBANGKIT LISTRIK. S1 thesis, UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA.

[img] Text (SKRIPSI)
full text 3334150070.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)

Abstract

Listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat penting dan sebagai sumber daya dengan nilai ekonomis yang paling utama. Sudu turbin merupakan salah satu komponen utama pada industri pembangkit listrik. Pada aplikasinya sudu turbin bergerak secara konstan, serta bekerja pada lingkungan yang korosif sehingga menyebabkan kegagalan stress corrosion cracking (SCC). Baja CA6NM merupakan material yang digunakan untuk komponen sudu turbin. Tujuan penelitian ini adalah untuk pengikatan ketahanan SCC dan sifat mekaniknya baja CA6NM modifikasi setelah dilakukan proses perlakuan panas tempering dengan variasi temperatur tempering kesatu dan kedua. Pada penelitian ini dilakukan proses perlakuan panas dengan cara hardening pada temperatur 1050°C dengan penahan selama 3 jam dan dilakukan quenching dengan media oli. Setelah dilakukan proses hardening sampel dilakukan proses tempering kesatu dengan variasi teperatur 100°C, 200°C, 300°C, 400°C, 500°C, 550°C, 600°C, 650°C dan 700°C. Selanjutnya sampel dilakukan proses tempering kedua dengan variasi terperatur 625°C, 650°C dan 675°C. Kemudian dilakukan pengujian tarik dan pengujian SCC dengan metode constan load. Pengujian SCC dengan metode constan load diberi tegangan tarik dengan pembebanan sebesar 80% yield strength serta sampel berada di dalam larutan NaCl 3,5%. Setelah pengujian SCC dilakukan pengamatan scanning electron microscope (SEM) pada sampel yang mengalami putus/patah. Kesimpulan yang diperoleh setelah pengujian tarik berupa nilai ultimate tensile strength (UTS) dan yield strength (YS). Sampel yang memiliki nilai pengujian tarik tertinggi pada sampel tempering 400°C dengan nilai UTS 1320 MPa dan nilai YS 1254 MPa, sedangkan sampel dengan nilai uji tarik terendah pada sampel 700°C - 625°C yaitu sebesar UTS 818 MPa dan YS 722 MPa. Untuk hasil pengujian SCC hampir semua sampel mengalami putus/patah namun ada 5 sampel yang dilakukan pengamatan SEM yaitu, single tempering 100°C, 200°C, 700°C serta double tempering 700°C-625°C dan 700°C-675°C. Hampir semua sampel hasil pengamatan SEM mengalami patah transgranular dengan model patah dimple rupture, namun pada sampel 700°C- 675°C mengalami patah transgranular dengan model patahan cleavage rupture.

Item Type: Thesis (S1)
Contributors:
ContributionContributorsNIP/NIM
Thesis advisorALFIRANO, ALFIRANO197406292003121001
Thesis advisorMABRURI, EFENDI197001051996031002
Additional Information: Listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat penting dan sebagai sumber daya dengan nilai ekonomis yang paling utama. Sudu turbin merupakan salah satu komponen utama pada industri pembangkit listrik. Pada aplikasinya sudu turbin bergerak secara konstan, serta bekerja pada lingkungan yang korosif sehingga menyebabkan kegagalan stress corrosion cracking (SCC). Baja CA6NM merupakan material yang digunakan untuk komponen sudu turbin. Tujuan penelitian ini adalah untuk pengikatan ketahanan SCC dan sifat mekaniknya baja CA6NM modifikasi setelah dilakukan proses perlakuan panas tempering dengan variasi temperatur tempering kesatu dan kedua. Pada penelitian ini dilakukan proses perlakuan panas dengan cara hardening pada temperatur 1050°C dengan penahan selama 3 jam dan dilakukan quenching dengan media oli. Setelah dilakukan proses hardening sampel dilakukan proses tempering kesatu dengan variasi teperatur 100°C, 200°C, 300°C, 400°C, 500°C, 550°C, 600°C, 650°C dan 700°C. Selanjutnya sampel dilakukan proses tempering kedua dengan variasi terperatur 625°C, 650°C dan 675°C. Kemudian dilakukan pengujian tarik dan pengujian SCC dengan metode constan load. Pengujian SCC dengan metode constan load diberi tegangan tarik dengan pembebanan sebesar 80% yield strength serta sampel berada di dalam larutan NaCl 3,5%. Setelah pengujian SCC dilakukan pengamatan scanning electron microscope (SEM) pada sampel yang mengalami putus/patah. Kesimpulan yang diperoleh setelah pengujian tarik berupa nilai ultimate tensile strength (UTS) dan yield strength (YS). Sampel yang memiliki nilai pengujian tarik tertinggi pada sampel tempering 400°C dengan nilai UTS 1320 MPa dan nilai YS 1254 MPa, sedangkan sampel dengan nilai uji tarik terendah pada sampel 700°C - 625°C yaitu sebesar UTS 818 MPa dan YS 722 MPa. Untuk hasil pengujian SCC hampir semua sampel mengalami putus/patah namun ada 5 sampel yang dilakukan pengamatan SEM yaitu, single tempering 100°C, 200°C, 700°C serta double tempering 700°C-625°C dan 700°C-675°C. Hampir semua sampel hasil pengamatan SEM mengalami patah transgranular dengan model patah dimple rupture, namun pada sampel 700°C- 675°C mengalami patah transgranular dengan model patahan cleavage rupture.
Subjects: Communication > Public Relations Science
Communication > Science Journalism
Divisions: 03-Fakultas Teknik
03-Fakultas Teknik > 27201-Jurusan Teknik Metalurgi
Depositing User: Mr Illyas Faisal
Date Deposited: 21 Jun 2023 15:22
Last Modified: 21 Jun 2023 15:22
URI: http://eprints.untirta.ac.id/id/eprint/16033

Actions (login required)

View Item View Item